Selasa, 13 Juni 2017

LTMNU Kudus Siap Berdayakan Masjid

Kudus, VOA Islami. Lembaga Tamir Masjid Nadlatul Ulama (LTMNU) se-Kabupaten Kudus menyatakan siap mengembangkan fungsi masjid. Kemakmuran masjid diperjuangkan akan meluas kepada kemakmuran masyarakat di sekelilingnya.

Komitmen ini muncul dalam rapat pimpinan daerah (Rapimda) LTMNU yang digelar Pengurus Cabang NU (PCNU), Sabtu (9/3), di aula PCNU setempat, Kudus, Jawa Tengah. Forum ini dikikuti sedikitnya 300 peserta dari unsur pengurus NU tingkat cabang, majelis wakil cabang, dan ranting.

LTMNU Kudus Siap Berdayakan Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
LTMNU Kudus Siap Berdayakan Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)


LTMNU Kudus Siap Berdayakan Masjid

Secara resmi acara bertema Wujudkan Masjid Sebagai Pusat Pemberdayaan Umat ini dibuka Kepala kementerian Agama Kebupaten Kudus H Hambali. Hadir pula dalam kesempatan ini, Rais Syuriyah PBNU KH Masdar Farid Masudi, Ketua Pengurus Pusat LTMNU H Abdul Manan A Ghani, dan Ketua PCNU Kabupaten Kudus H Chusnan.

VOA Islami

Kiai Masdar mengajak seluruh peserta untuk serius mengelola masjid. Menurut dia, gerakan melalui masjid termasuk langkah strategis tak hanya untuk menguatkan NU sebagai organisasi, tapi juga memberi manfaat bagi jamaahnya.

Kami dari PBNU datang ke daerah-daerah, mengetuk kesadaran terdalam untuk mengingatkan aset Nahdlatul Ulama yang sangat mahal harganya namun kurang diperhatikan, ujarnya.

VOA Islami

Kiai alumni Pesantren Krapyak ini juga menjelaskan, guna menyongsong peringatan satu abad mendatang, NU harus mulai bergerak dari sekarang. Dan salah satu sarana yang paling bisa diandalkan adalah melalui tempat ibadah, yakni masjid.

Kegiatan LTMNU kali ini bekerja sama dengan larutan penyegar cap Badak produksi PT Sinde Budi Sentosa.

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/42992/ltmnu-kudus-siap-berdayakan-masjid

VOA Islami

Sabtu, 29 April 2017

PBNU: Kembalikan Fungsi MPR Sebagai Lembaga Tertinggi

Jakarta, VOA Islami. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menginginkan fungsi Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) sebagai lembaga tertinggi negara yang membawahi lembaga tinggi negara yang lain dikembalikan seperti sebelum era reformasi.

Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum PBNU H Asad Said Ali dalam sarasehan Revitalisasi Jihad NU di Gedung Juang 45, Surabaya, Selasa (22/10) seperti dilansir harian Duta Masyarakat.

PBNU: Kembalikan Fungsi MPR Sebagai Lembaga Tertinggi (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: Kembalikan Fungsi MPR Sebagai Lembaga Tertinggi (Sumber Gambar : Nu Online)


PBNU: Kembalikan Fungsi MPR Sebagai Lembaga Tertinggi

Asad menyampaikan, para kiai meresahkan dinamika politik yang berkembang jauh dari kesepakatan pendirian negara akibat masuknya liberalisme dan fundamentalisme yang merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara secara sistematik.

VOA Islami

Keresahan para kiai sudah diungkapkan oleh Rais Aam PBNU KH Sahal Mahfudh dalam Munas Alim Ulama NU di Buntet Cirebon beberapa waktu lalu. Bahkan presiden langsung memberikan respon, kata Asad.

VOA Islami

Para kiai juga meminta amandemen UUD 1945 ditinjau kembali, karena hanya sedikit amandemen yang bermanfaat. Sementara yang lain lebih banyak mudharatnya.

Para kiai meminta MPR dikembalikan kepada fungsinya sebagai lembaga tertinggi yang membawahi lembaga tinggi lainnya, baik eksekutif, legislatif, maupun yudikatif, sehingga jika ada masalah antar lembaga, maka ada penengahnya yakni MPR, kata Asad.

Terkait pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pilkada), NU mengusulkan pilkada langsung cukup dilakukan sampai tingkat provinsi. Pancasila itu mengutamakan musyawarah. Itulah demokrasi ala Indonesia, bukan pemilihan langsung, katanya

Para kiai juga meminta 10 produk Undang Undang terkait ekonomi ditinjau ulang. Ekonomi harus mengedepankan etika, dan ekonomi khas Indonesia adalah gotong royong, antara ekonomi atas dan ekonomi bawah saling kerjasama dan saling membantu, tambah Asad. (A. Khoirul Anam)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/47783/pbnu-kembalikan-fungsi-mpr-sebagai-lembaga-tertinggi

VOA Islami

Rabu, 12 April 2017

Petani Butuh Konsistensi Sikap Pemerintah

Jakarta, VOA Islami. Ia adalah satu satunya anggota DPR dari kalangan warga Nahdiyin yang paling tua, paling tidak untuk saat ini. Tua di sini memiliki makna ganda, yaitu tua dari sisi usia, dan pengalaman.

Pak Imam, begitu dia akrab disapa memang dilahirkan 73 tahun silam. Anggota Dewan yang tergabung di FKB ini lahir pada 15 Juni 1931 di Ponorogo. Kedua orang tuanya pun lantas memberi nama buah hatinya dengan sebutan Imam Churmen.

Dilihat dari pengalaman di bidang pertanian, perikanan, peternakan, kelautan, dan perkebunan, suami dari Hj Darsanah ini memang terbilang kawakan. Rentang pengalaman dalam membela nasib kaum petani ini dibentangkan sejak dia menjadi Ketua Pertanian Nahdatul Ulama (Pertanu) Wilayah Jawa Tengah, 1960, Ketua II Pucuk Pimpinan Pertanu, 1965, Ketua Bagian Tani dan Nelayan PBNU, 1979, dan Ketua Lembaga Perkembangan Pertanian NU (LP2NU), 1985.

Petani Butuh Konsistensi Sikap Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)
Petani Butuh Konsistensi Sikap Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)


Petani Butuh Konsistensi Sikap Pemerintah

Keseriusannya menekuni aktivisme di bidang pertanian memang tak sia-sia. Terhitung sejak 1971 hingga 2004, putra pasangan Kasan Kadiran dengan Sainem ini menjadi anggota Dewan yang membidangi komisi Pertanian dan Kehutanan.

Keseriusan dan ketekunannya membidangi kedua sektor itu membuatnya disegani teman-temannya sesama anggota Dewan maupun para pakar. Tak heran Ketua Himpunan Kerukunan Tani dan Nelayan (HKTI) yang juga Mantan Capres Siswono Yudhohusodo menilai Imam sebagai anggota Dewan yang merakyat. Pak Imam merupakan senior yang konsisten berjuang membela kaum tani. Kepeduliannya kepada nasib para petani telah menjadikan beliau akrab dengan rakyat. Inilah yang membedakan dia dengan pakar pertanian biasa yang karena tidak punya kepedulian telah membuat pakar tersebut terasing dari masyarakatnya,tutur Siswono.

Meski selalu serius, saya jarang melihat Pak Imam tampil tanpa senyum. Dalam rapat yang sangat serius yang dipimpinnya pun, dia bisa membawakannya dengan serius tapi rileks,tambah Siswono.

Karena kepeduliannya pula, Wakil Ketua DPR RI dari FPDIP Soetardjo Soerjogoeritno mengenal Imam sebagai anggota DPR yang tidak mau hanya duduk di depan mejanya. Pak Imam adalah anggota Dewan yang selalu turun ke daerah-daerah pertanian yang mengalami penderitaan,kata Soetardjo seraya menyatakan keinginannya untuk menjadikan Churmen sebagai penasehat presiden di bidang pertanian kelak.

VOA Islami

Meski serius, Imam mengaku tidak punya musuh. Pernyataan Imam ini tentu kedengaran aneh, apa mungkin politisi tidak punya musuh?

Soal pernyataannya itu, Imam pun menjelaskan,Musuh saya hanyalah kemiskinan, Kemungkaran, Penindasan dan Kedzaliman,tandas Imam.

Hingga saat ini, Imam yang pada hari ini (12/9) meluncurkan biografinya berjudul Imam Churmen Penyambung Lidah Petani sudah 30 tahun lebih berjuang untuk petani. Karena faktor usia yang sudah sepuh, dia pun pamitan untuk berhenti berkiprah sebagai anggota Dewan di Senayan. Dan di hari pamitannya di Graha Sucofindo di Jalan Raya Pasar Minggu, VOA Islami berhasil mewawancarai Imam Churmen mengenai persoalan sektor pertanian dan kehutanan yang harus dibenahi.

VOA Islami

Anggota Dewan yang dinilai Budayawan Mohamad Sobary sebagai Imam yang paling dekat dengan makmumnya ini mengungkapkan, bahwa pembenahan di sektor pertanian rakyat membutuhkan tiga hal: Sinkronisasi antar departemen pemerintahan, Konsistensi sikap dalam memperjuangkan nasib petani dan Penegakan hukum.(Dul)

Dari (Warta) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/2044/petani-butuh-konsistensi-sikap-pemerintah

VOA Islami

Rabu, 08 Maret 2017

Muslimat NU DKI Jakarta Sebar 7 Ribu Bibit Cabai

Jakarta, VOA Islami. Pimpinan Wilayah (PW) Muslimat NU DKI Jakarta melakukan penandatangan kerjasama budidaya cabai dengan Badan Teknologi Pertanian Jakarta pada acara peringatan Harlah ke-71 Muslimat NU di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta Pusat. Kamis (11/5).

Dalam kerjasama itu, Badan Teknologi Pertanian Jakarta memberikan 7.000 bibit cabai, yang nantinya setiap Pimpinan Cabang se-DKI Jakarta diberikan 1.000 bibit cabai untuk ditanam.

Muslimat NU DKI Jakarta Sebar 7 Ribu Bibit Cabai (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU DKI Jakarta Sebar 7 Ribu Bibit Cabai (Sumber Gambar : Nu Online)


Muslimat NU DKI Jakarta Sebar 7 Ribu Bibit Cabai

Ketua PW Muslimat NU DKI Jakarta Hj Hisbiyah Rochim mengatakan bahwa kerjasama ini merupakan tindak lanjut dari Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Muslimat NU yang bekerja sama dengan kementerian Pertanian. Sehingga, katanya, PW Muslimat NU DKI Jakarta ini menindaklanjuti dengan dinas pertanian setempat.

Hisbiyah menambahkan, cabai-cabai ini nantinya diberikan ke setiap cabang, anak cabang, dan ranting Muslimat NU supaya ditanam dan dirawat di halaman rumahnya agar bisa bersama-sama merasakan manfaat kerjasama ini.

VOA Islami

Pertama, kan, menguntungkan untuk kepentingan di rumah itu sendiri. Kedua, kalau masih banyak ya diberikan ke tetanga-tetangganya, sehingga tetangga itu bisa merasakan juga, kata Hisbiyah usai acara.

VOA Islami

Menurutnya, kerjasama ini dilakukan karena PP Muslimat NU memandang perlu untuk kebutuhan sehari-hari ibu rumah tangga yang tidak bisa lepas dari sembako.

PP (Muslimat) menganggap ini perlu untuk meringankan ibu-ibu semuanya untuk keperluan di rumah tangganya. Memberikan sedikit kesejahteraan, ujarnya. (Husni Sahal/Zunus)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/77842/muslimat-nu-dki-jakarta-sebar-7-ribu-bibit-cabai

VOA Islami

Selasa, 07 Maret 2017

Ahmadinejad calls for cooperation among independent states

Havana, VOA Islami. President Mahmoud Ahmadinejad said here Saturday that further cooperation among independent states will strengthen their position in influencing the world affairs.

The president made the remark in a meeting with his Venezuelan counterpart Hugo Chavez Frias on the sidelines of the second and final day of the Non-Aligned Movement Summit here.

"Tehran and Caracas, as two important members of the Non-Aligned Movement can play an effective role in strengthening the movement and turning it into a more effective tool," he said.President Ahmadinejad also hailed Venezuelas support for the righteous stands of the Iranian nation in acquiring peaceful nuclear technology.

"Thanks to the efforts of its offsprings, the Iranian nation has acquired peaceful nuclear technology. We consider utilization for peaceful purposes of this technology in various fields, including medical and agricultural energy is our inalienable right." Referring to the common and independent stands of the two countries in world issues, Chavez stressed the importance of promotion of Tehran-Caracas ties.

Ahmadinejad calls for cooperation among independent states (Sumber Gambar : Nu Online)
Ahmadinejad calls for cooperation among independent states (Sumber Gambar : Nu Online)


Ahmadinejad calls for cooperation among independent states

He stressed that Venezuela favors strengthening of ties with Iran in various fields, particularly in auto and tractor manufacturing, mass production of housing units, transportation and energy sectors.

Referring to Ahmadinejads visit, Chavez expressed hope the trip would help further promote brotherly and friendly ties between the two countries. (irn/dar)

VOA Islami

VOA Islami

Dari (News) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/28218/ahmadinejad-calls-for-cooperation-among-independent-states

VOA Islami

Rabu, 08 Februari 2017

Gus Mus ke MUI: Rakyat Jelata Disuruh Jadi Manusia, Tapi Mereka Jadi Harimau

VOA Islami - Menurut Gus Mus, status MUI selama ini tidak jelas dan membingungkan, apakah termasuk organisasi masyarakat, partai politik, atau Institusi Pemerintah.

Gus Mus ke MUI: Rakyat Jelata Disuruh Jadi Manusia, Tapi Mereka Jadi Harimau
Gus Mus ke MUI: Rakyat Jelata Disuruh Jadi Manusia, Tapi Mereka Jadi Harimau


Meski menyandang status yang tidak jelas, kata Gus Mus, MUI mendapat anggaran dari pemerintah/ negara. "MUI ini sudah lama tidak jelas. Parpol, Ormas atau Lembaga Pemerintah. Tapi kok ya dapat APBN," ujar Gus Mus saat ditemui CNNIndonesia. com di kediamannya di Rembang, Jawa Tengah, beberapa hari lalu.

Gus Mus mengatakan, tidak semua orang yang ada di MUI itu ulama, tapi banyak dari mereka yang menyebut dirinya ulama. Sehingga, menurut Gus Mus, banyak umat Islam yang menganggap MUI sebagai penentu fatwa yang wajib diikuti.

"Asal jadi pengurus MUI terus kok disebut ulama. Juru tulis atau juru ketik seakan ulama, terus mudah mengeluarkan fatwa, dan lucunya, banyak umat Islam yang mengikuti. Halal dan haram mudah dikeluarkannya," sindir Pengasuh Pondok Pesantren Roudhotul Tholibin Rembang itu.

Dalam kondisi bangsa dan negara yang kini rentan diterpa oleh isu suku, agama, ras, dan antargolongan, Gus Mus berharap orang-orang di dalam MUI mau mengkoreksi diri dan merevolusi mental internal kelembagaan.

"Jangan mengatakan seseorang atau manusia bukanlah manusia padahal dirinya sendiri belum atau bahkan bukan manusia. Rakyat jelata disuruh jadi manusia, tapi mereka jadi harimau, serigala, waduh," ujar Gus Mus.

MUI sebelumnya telah mengeluarkan fatwa yang menyebut bahwa Ahok telah menistakan agama. Saat melakukan kunjungan kerja di Kepulauan Seribu, Ahok menyinggung surat Al-Maidah ayat 51 dan dikaitkan dengan Pilkada DKI Jakarta. MUI menilai pernyataan Ahok merupakan penghinaan terhadap Al-Quran dan ulama.

Baca juga: MUI Sarang Gerakan Radikal? Duh, Gawat!

Selain memicu gelombang demonstrasi besar-besaran dalam Aksi Damai 4 November lalu, dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok telah menimbulkan pro kontra opini di kalangan publik.

Gus Mus sendiri menyayangkan sikap MUI yang dinilai telah 'menyerang' mantan Ketua PP Muhammadiyah Achmad Syafii Ma'arif lewat media massa maupun di media sosial, terkait tanggapannya atas dugaan kasus penistaan agama oleh Ahok.

"Itu gimana Buya Syafii saja didebat dan dihujat. Ilmu agama Islam Buya itu lebih tinggi dari mereka yang di MUI," sindir Gus Mus. [VOA Islami]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/11/gus-mus-ke-mui-rakyat-jelata-disuruh-jadi-manusia-mereka-harimau.html

Senin, 30 Januari 2017

Kasus Ahok, GP Ansor Jatim Ikut Sikap Kiai Maruf Amin

Surabaya, VOA Islami. Seperti ramai diberitakan, Ahok telah meminta maaf melalui keterangan tertulis kepada wartawan dan sebuah tayangan video. Dia meminta maaf setelah dianggap memojokkan Ketua Umum MUI yang juga Rais Aam PBNU, KH Maruf Amin yang bersaksi dalam sidang kasus dugaan penodaan agama, Selasa (31/1).

Kepada sejumlah media, KH Maruf Amin mengakui sudah memaafkan Ahok. "Namanya orang sudah minta maaf masa tidak dimaafkan," kata Kiai Maruf Amin, Rabu (1/2). Pada saat yang sama, Kiai Maruf mengimbau kepada semua kader PBNU di seluruh Tanah Air untuk juga memaafkan Ahok. Menurut dia, kader PBNU harus tenang dan bisa menahan diri.

Kasus Ahok, GP Ansor Jatim Ikut Sikap Kiai Maruf Amin (Sumber Gambar : Nu Online)
Kasus Ahok, GP Ansor Jatim Ikut Sikap Kiai Maruf Amin (Sumber Gambar : Nu Online)


Kasus Ahok, GP Ansor Jatim Ikut Sikap Kiai Maruf Amin

Terkait hal ini, Gerakan Pemuda (GP) Ansor dan Barisan Serba Guna (Banser) Jawa Timur akan melakukan hal serupa. Yakni tidak akan melaporkan Ahok terkait ucapannya yang dianggap merendahkan dan menghina Kiai Maruf. Hal ini sejalan dengan sikap dan teladan Rais Aam PBNU tersebut yang telah memaafkan Ahok.

VOA Islami

Pernyataan ini disampaikan Ketua GP Ansor Jawa Timur, H Rudi Tri Wachid, Kamis (2/2). Menurutnya, kader Ansor dan Banser mengikuti sikap Kiai Maruf yang telah memaafkan Ahok.

"Karena Kiai Maruf sudah memaafkan, kita akan mengikuti sikap kiai kita," kata H Rudi Tri Wachid. Apalagi permintaan maaf berupa video dan pernyataan tertulis telah dilakukan serta tersebar di media sosial.

VOA Islami

Kasatkorwil Banser Jatim, H Moh Abid Umar juga menjelaskan bahwa Banser lahir batin menjaga marwah ulama dan kiai NU sekaligus benteng terdepan NKRI.

"Kami adalah benteng dari Nahdhatul Ulama dan Negara Kesatuan Republik Indonesia atau NKRI. Perintah Rais Aam KH Maruf Amin agar kader NU harus tenang dan bisa menahan diri, wajib kami taati," terang Gus Abid, sapaan akrabnya.

Kedati demikian, ia mengingatkan berbagai kalangan jangan sekali-kali menyenggol dan menghina ulama dan kiai NU. "Banser akan berdiri di depan," tegas Gus Abid.

Hal serupa disampaikan Wakil Ketua PW GP Ansor Jatim Bidang Infokom, H Mochamad Nur Arifin. Gus Ipin, sapaan akrabnya mengemukakan bahwa Ansor Jatim siap setia membentengi NU dan pesantren dari pihak yang ingin mengadu domba, menebar kebencian dan menciderai kebhinekaan.

"Kami akan selalu siap menunggu instruksi untuk menjaga marwah dan sebagai benteng NU dan NKRI dari pihak yang sekadar nabok nyilih tangan," ungkap Gus Ipin.

"Mari kita jadikan kejadian ini untuk semakin meneguhkan rasa ukhuwah nahdliyah, persaudaraan sebangsa dan setanah air," tegasnya. Selanjutnya, semua pihak harus menjaga ketenangan negara dari provokasi dan ujaran kebencian oleh gerakan yang mengancam keharmonisan beragama, berbangsa dan bernegara, urainya.

Di akhir paparannya, Gus Ipin berpesan untuk menjadikian peristiwa ini sebagai sarana mengedepankan kesantunan dalam bersikap. "Jadikan ini pembelajaran bersama untuk mengedepankan kesantunan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara," pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/75124/kasus-ahok-gp-ansor-jatim-ikut-sikap-kiai-maruf-amin

VOA Islami

Sabtu, 21 Januari 2017

PCNU Surabaya Haramkan Memilih Pemimpin Non Muslim

VOA Islami - Hukum memilih pemimpin non muslim untuk menjadi bupati, gubernur maupun presiden, hingga kini masih menjadi isu menarik di kalangan pesantren dan umat Islam pada umumnya. Bertahun-tahun lamanya, isu pemimpin non muslim dijadikan perdebatan wacana maupun praksis.

PCNU Surabaya Haramkan Memilih Pemimpin Non Muslim - VOA Islami
PCNU Surabaya Haramkan Memilih Pemimpin Non Muslim - VOA Islami


PCNU Surabaya Haramkan Memilih Pemimpin Non Muslim

Termasuk oleh PCNU Surabaya beberapa waktu lalu. Untuk menjawab pertanyaan seputar pemimpin non muslim yang jadi penguasa, agenda bahtsul masail diselenggarakan. Meskipun hasilnya bukan merupakan sebuah fatwa yang mengikat, namun sangat menarik untuk diulas. Berikut ini adalah hasilnya.

Deskripsi Masalah:

Sistem demokrasi dan pemilihan langsung yang berlaku di Indonesia memungkinkan semua orang berkompetisi menjadi kandidat pimpinan baik di tingkat pusat maupun daerah, sehingga terurailah monopoli etnik, ras maupun agama untuk menduduki tampuk kepempimpinan.

Namun demikian, secara riil hal ini memunculkan problem tersendiri dan menjadi perbincangan hangat ketika ci suatu daerah yang mayoritas masyarakatnya menganut agama atau merupakan suku/ras tertentu, sementara bakal calon pemimpin yang ada dan berkemungkinan memenangkan suksesi justru dari penganut agama atau suku/ras lainnya.

Semisal daerah mayoritas muslim, justru yang kuat ternyata dari non muslim. Selain itu, adapula seorang muslim yang munkin saja secara politik lebih dekat dengan non muslim sehingga menjadi tim suksesnya.

Pertanyaan:

1. Apakah seorang muslim boleh memilih kandidat pemimpin non muslim, baik di tingkat daerah seperti Bupati/Walikota/Wakil, maupun di tingkat yang lebih tinggi seperti Gubernur/Wakil Gubernur dan Presiden/Wakil Presiden?

2. Apakah hukum memilih calon wakil rakyat (DPRD/DPR, DPD) sama hukumnya dengan memilih kandidat pemimpin non muslim?

3. Apakah seorang muslim dibenarkan menjadi tim sukses calon pemimpin/wakil rakyat non muslim (eksekutif dan legislatif), karena kedekatan politik dan pertimbangan politik lain yang terkadang tidak dipahami oleh masyarakat pada umumnya?

Mukadimah:

Pembahasan permasalahan ini tidak dimaksudkan untuk menebarkan isu SARA (Suku, Agama, Ras dan Antargolongan) dan merusak hubungan lahiriah (muamalah zhahirah) yang telah terjalin secara baik antara muslim dan non muslim di Indonesia. Namun benar-benar dimaksudkan sebagai petunjuk (irsyad) bagi kaum muslimin dalam berpartisipasi membangun negeri sesuai ajaran agama yang diyakininya.

Pembahasan serupa pernah diselenggarakan dalam Muktamar NU Ke-30 di PP Lirboyo Kota Kediri Jawa Timur, 21-27 November 1999. Namun keputusan tersebut tidak secara terang-terangan mencantumkan, bahwa non muslim yang menangani urusan kaum muslimin dalam kondisi darurat wajib harus dicegah agar tidak sampai menguasai dan mendominasi (istila) satu orang pun dari kaum muslimin. Sebab itu, keputusan dalam pembahasan ini secara prinsip tidak bertentangan dengan keputusan Muktamar NU tersebut.

Jawaban No. 1:

Hukum memilih pemimpin non muslim seperti Bupati/Walikota dan Wakil Bupati/Wakil Walikota, Gubernur/Wakil Gubernur dan Presiden/Wakil Presiden adalah haram. Sebab, memilihnya berarti mengangkatnya sebagai pemimpin dan menjadikan kaum muslimin di bawah kekuasaan, dominasi dan superioritasnya. Hal ini juga selaras dengan firman Allah:

“Wahai orang-orang yang beriman, jangan kalian jadikan kaum Yahudi dan Nasrani sebagai penolong/penguasa. Sebagian mereka menjadi penolong sebagian yang lain. Orang dari kalian yang menolong mereka, maka ia termasuk bagian darinya. Sungguh Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.” (QS. al-Maidah: 51)

“Wahai orang-orang yang beriman, jangan kalian jadikan orang-orang yang menjadikan agama kalian sebagai gurauan dan permainan dari golongan ahli kitab dari sebelum kalian dan orang-orang kafir sebagai penolong/penguasa. Bertakwalah kalian kepada Allah jikan kalian adalah orang-orang yang beriman. (QS. al-Maidah: 51)

Beberapa Pertimbangan:

Dalam kebanyakan kasus yang dikaji kitab-kitab fikih, hukum menguasakan non muslim untuk menangani urusan kaum muslimin adalah haram. Seperti keharaman meminta tolong non muslim untuk memerangi pemberontak, menjadikannya sebagai eksekutor hukuman mati dan semisalnya, mengangkatnya sebagai pegawai bait al-mal dan penarik kharraj (semacam pajak), menjadikannya sebagai wazir at-tanfidz (semacam tim pelaksana dalam kementerian di sistem ketatanegaraan Islam klasik), serta mengurus urusan kaum muslimin secara umum.

Meskipun ada pendapat ulama (Syaikh Ali Syibramalisi) yang mengecualikan keharaman dalam bidang-bidang tertentu yang dari sisi kemaslahatan penangannya harus diserahkan kepada non muslim―baik karena tidak adanya muslim yang mampu menanganinya atau karena tampaknya pengkhianatan darinya―, namun pendapat tersebut tidak bisa digunakan untuk melegitimasi kebolehan memilih pemimpin non muslim.

Sebab kekuasaan, dominasi, dan superioritasnya baik dalam ucapan maupun perbuatan terhadap rakyat yang muslim sangat besar dan tidak terhindarkan. Selain itu, kewajiban adanya kontrol yang efektif pun tidak mungkin terpenuhi, yaitu mengawasi dan mencegahnya agar tidak menguasai dan mendominasi satu orang pun dari kaum muslimin.

Meskipun dalam beberapa kasus yang disebutkan pada poin; 1) terdapat khilaf, seperti menjadikan non muslim sebagai wazir at-tanfidz dan menjadikannya sebagai petugas penarik pajak. Namun pendapat yang lemah yang membolehkannya ini tidak bisa dijadikan dasar untuk membolehkan memilih pemimpin non muslim.

Sebab unsur kekuasaan, dominasi dan superioritas non muslim atas kaum muslimin dalam kasus-kasus tersebut sangat kecil atau bahkan tidak ada. Tidak sebagaimana dalam kasus pemimpin non muslim menjadi Bupati/Walikota dan Wakil Bupati/Walikota, Gubernur/Wakil Gubernur, dan Presiden/Wakil Presiden, yang meskipun secara legal formal sistem tata negara modern merupakan lembaga eksekutif atau pelaksana saja, namun pada kenyataannya unsur kekuasaan, dominasi dan superioritasnya terhadap rakyat muslim sangat besar.

Selain itu, kewenangannya dalam mengambil berbagai kebijakan juga sangat besar, berbeda dengan wazir at-tanfidz maupun petugas penarik pajak yang hanya murni sebagai pelaksana saja.

Sistem trias politica yang membagi kekuasaan dalam lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif, yang diterapkan di Indonesia tidak dapat menafikan unsur dominasi dan superioritas masing-masing lembaga terhadap rakyat.

Karena itu, asumsi bahwa rumusan hukum fikih mazhab sama sekali tidak bisa diterapkan dalam konteks perpolitikan sekarang tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Asumsi memilih pemimpin non muslim sebagai strategi politik untuk mencapai kepentingan yang lebih besar bagi kaum muslimin juga tidak dapat dibenarkan. Sebab hal ini secara nyata justru membahayakan kaum muslimin.

Pendapat ulama yang terkesan lebih mengutamakan kekuasaan sekuler yang adil daripada kekuasaan Islam yang zalim dan jargon "pemimpin kafir yang adil lebih baik daripada pemimpin muslim yang zalim," harus dipahami dalam konteks menyampaikan urgensitas keadilan bagi suatu pemerintahan, sebagaimana pendapat ulama Ahlussunnah wal Jamaah, bukan dalam konteks melegitimasi kebolehan memilih pemimpin non muslim.

Asumsi bahwa penafsiran kata auliya dengan makna pemimpin/penguasa dalam beberapa ayat yang menyinggung hubungan muslim dan non muslim, semisal QS. al-Maidah: 51 dan 57—adalah penafsiran yang salah, sehingga digunakan untuk melegitimasi bolehnya memilih pemimpin non muslim, tidak sepenuhnya benar.

Ayat-ayat tersebut oleh sebagian ulama juga digunakan sebagai landasan ketidakbolehan menguasakan urusan ketatanegaraan kaum muslimin kepada non muslim, seperti Khalifah Sayyidina Umar bin al-Khattab ra dan Khalifah Umar bin Abdul Aziz ra sebagaimana dikutip dalam berbagai kitab fikih siyasah. Seperti dalam Husn as-Suluk al-Hafizh Daulah al-Muluk (h. 161) karya Muhammad bin Muhammad al-Mushili as-Syafii, Maalim al-Qurbah fi Thalab al-Hisbah (h. 44) karya Ibn al-Ukhuwwah al-Qurasyi as-Syafi’i, dan Siraj al-Muluk (h. 111) karya Muhamad bin al-Walid at-Tharthusyi al-Maliki.

Jawaban 2:

Hukum memilih calon wakil rakyat non muslim (DPRD/DPR—yang memiliki fungsi legislasi, fungsi anggaran dan fungsi pengawasan—, dan DPD—yang memiliki fungsi legislasi, pertimbangan dan pengawasan—) sama dengan hukum memilih pemimpin non muslim yaitu haram, karena termasuk memberi kuasa non muslim atas kaum muslimin dan pemilih tidak mampu mencegahnya dari mengkhianati kepentingan kaum muslimin.

Jawaban 3:

Orang Islam tidak dibenarkan (haram) menjadi tim sukses calon pemimpin/wakil rakyat non muslim, sebab termasuk menolong kemungkaran dan menjalin hubungan sosial dengan non muslim yang diharamkan.

Hasil Bahtsul Masail di dilaksanakan oleh PCNU Kota Surabaya Periode 2015-2020 M di Masjid Sabil al-Mutathahhirin Barata Jaya Surabaya, Ahad 25 September 2016 dengan tim Musahhih (penashih) terdiri atas KH. Mas Sulaiman, KH. Mas Mahfudz, KH. Ahmad Asyhar Shofwan M.Pd.I., KH. Farohi Haroen dan KH. M. Ali Maghfur Syadzili Iskandar. S.Pd.I

Adapun tim perumus dalam agenda tersebut adalah K. Makruf Khozin, KH. Sholihin Hasan, M.H.I., K. Luqmanul Hakim, S.Pd.I dan K. Mas Gholib Basyaiban yang dimoderatori oleh Ahmad Muntaha AM dengan notulen KH. Muhammad Muhgits dan K. Nur Hadi, S.H.I. [VOA Islami]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/09/pcnu-surabaya-haramkan-memilih-pemimpin-non-muslim.html

Rabu, 18 Januari 2017

Hukum Shalat Nisfu Syaban

Ada yang menanyakan tentang hadis nishfu sya'ban apakah benar ada atau hanya hoax semata, atau hadis dhoif. Jangan-jangan bidah dholalah yang akan membawa ke neraka jahanam. Simak penjelasannya berikut ini

Hukum Shalat Nisfu Syaban
Hukum Shalat Nisfu Syaban


Pertanyaan: Adakah hadis yang menjelaskan tentang salat di Malam Nishfu Sya'ban?

Jawaban: Malam Nishfu Sya'ban dilakukan pertama kali oleh para Tabi'in (generasi setelah Sahabat Nabi) di Syam Syria, seperti Khalid bin Ma'dan (perawi dalam Bukhari dan Muslim), Makhul (perawi dalam Bukhari dan Muslim), Luqman bin 'Amir (al-Hafidz Ibnu Hajar menilainya 'jujur') dan sebagainya, mereka mengagungkannya dan beribadah di malam tersebut.

Dari mereka inilah kemudian orang-orang mengambil keutamaan Nishfu Sya'ban. Ketika hal ini menjadi populer di berbagai Negara, maka para ulama berbeda-beda dalam menyikapinya. Ada yang menerima, di antaranya adalah para ulama di Bashrah (Irak). Namun kebanyakan ulama Hijaz (Makkah dan Madinah) mengingkarinya seperti Atha', Ibnu Abi Mulaikah, dan Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dari ulama Madinah dan pendapat beberapa ulama Malikiyah mengatakan:

"Semuanya adalah bid'ah".

Ulama Syam berbeda-beda dalam melakukan ibadah malam Nisfu Sya'ban. Pertama, dianjurkan dilakukan secara berjamaah di masjid-masjid. Misalnya Khalid bin Ma'dan, Luqman bin Amir dan lainnya, mereka memakai pakaian terbaiknya, memakai minyak wangi, memakai celak mata dan berada di masjid. Hal ini disetujui oleh Ishaq bin Rahuwaih (salah satu Imam Madzhab yang muktabar), dan beliau mengatakan tentang ibadah malam Nishfu Sya'ban di masjid secara berjamaah: "Ini bukan bid'ah". Dikutip oleh Harb al-Karmani dalam kitabnya al-Masail.

Kedua, dimakruhkan untuk berkumpul di masjid pada malam Nishfu Sya'ban untuk shalat, mendengar cerita-cerita dan berdoa. Namun tidak dimakruhkan jika seseorang salat (sunah mutlak) sendirian di malam tersebut. Ini adalah pendapat al-Auza'i, imam ulama Syam, ahli fikih yang alim. Inilah yang paling tepat, InsyaAllah. (Syaikh al-Qasthalani dalam Mawahib al-Ladunniyah II/259 yang mengutip dari Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Lathaif al-Ma'arif 151)

Dalil-Dalil Hadis Nishfu Sya'ban Hadis Pertama,

عَنْ مُعَاذِ بن جَبَلٍ عَن النَّبِيِّ  قَالَ يَطَّلِعُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيْعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ (رواه الطبراني في الكبير والأوسط قال الهيثمى ورجالهما ثقات. ورواه الدارقطنى وابنا ماجه وحبان فى صحيحه عن ابى موسى وابن ابى شيبة وعبد الرزاق عن كثير بن مرة والبزار)

“Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya Allah memperhatikan hambanya (dengan penuh rahmat) pada malam Nishfu Sya’ban, kemudian Ia akan mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik dan musyahin (orang munafik yang menebar kebencian antar sesama umat Islam)”. (HR Thabrani dalam Al Kabir No 16639, Daruquthni fi Al Nuzul 68, Ibnu Majah no 1380, Ibnu Hibban No 5757, Ibnu Abi Syaibah no 150, Al Baihaqi fi Syu’ab al Iman No 6352, dan Al Bazzar fi Al Musnad 2389. Peneliti hadis Al Haitsami menilai para perawi hadis ini sebagai orang-orang yang terpercaya. Majma’ Al Zawaid 3/395).

Ulama Wahabi, Nashiruddin al-Albani yang biasanya menilai lemah (dlaif) atau palsu (maudlu') terhadap amaliyah yang tak sesuai dengan ajaran mereka, kali ini ia tak mampu menilai dlaif hadis tentang Nishfu Sya'ban, bahkan ia berkata tentang riwayat diatas: "Hadis ini sahih" (Baca as-Silsilat ash-Shahihah 4/86)

إِنَّ اللهَ لَيَطَّلِعُ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيْعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ (صحيح) اهـ السلسلة الصحيحة للالباني (4/ 86)

Hadis Kedua,

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ  اِنَّ اللهَ تَعَالَى يَدْنُوْ مِنْ خَلْقِهِ فَيَغْفِرُ لِمَنِ اسْتَغْفَرَ إِلاَّ الْبَغِيَّ بِفَرْجِهَا وَالْعَشَّارَ (رواه الطبراني في الكبير وابن عدي عن عثمان بن أبي العاص وقال الشيخ المناوي ورجاله ثقات اهـ التيسير بشرح الجامع الصغير 1/551)

"Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya (rahmat) Allah mendekat kepada hambanya (di malam Nishfu Sya'ban), maka mengampuni orang yang meminta ampunan, kecuali pelacur dan penarik upeti" (HR al-Thabrani dalam al-Kabir dan Ibnu 'Adi dari Utsman bin Abi al-'Ash. Syaikh al-Munawi berkata: Perawinya terpercaya. Baca Syarah al-Jami' ash-Shaghir 1/551)

Hadis Ketiga,

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ  يَنْزِلُ اللهُ تَعَالَى لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِكُلِّ نَفْسٍ إِلاَّ إِنْسَانًا فِي قَلْبِهِ شَحْنَاءُ أَوْ مُشْرِكًا بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ (قال الحافظ ابن حجر هذا حديث حسن أخرجه الدارقطني في كتاب السنة عن عبد الله بن سليمان على الموافقة وأخرجه ابن خزيمة في كتاب التوحيد عن أحمد بن عبد الرحمن بن وهب عن عمه اهـ الأمالي 122)

“Rasulullah Saw bersabda: (Rahmat) Allah turun di malam Nishfu Sya’ban maka Allah akan mengampuni semua orang kecuali orang yang di dalam hatinya ada kebencian kepada saudaranya dan orang yang menyekutukan Allah" (al-Hafidz Ibnu Hajar berkata: "Hadist ini hasan. Diriwa-yatkan oleh Daruquthni dalam as-Sunnah dan Ibnu Khuzaimah dalam at-Tauhid, Baca al-Amali 122)

Mengenai shalatnya, ulama ahli fikih dan hadist sepakat bahwa hadist tentang salat dengan niat 'shalat sunah malam Nisfu Sya'ban' adalah hadis maudlu' (palsu), sebagai-mana salat 'Raghaib' di awal bulan Rajab. Namun jika seseorang melakukan salat sunah mutlak seperti salat Hajat atau salat Tasbih, maka diperbolehkan. Hal ini berdasarkan hadis dari Aisyah bahwa Rasulullah Saw melakukan salat sunah mutlak di malam tersebut (HR Al Baihaqi fi Syu'ab Al Iman No 3675, menurutnya hadits ini Mursal yang baik)

عَنِ الْعَلاَءِ بْنِ الْحَارِثِ اَنَّ عَائِشَةَ قَالَتْ: قَامَ رَسُوْلُ اللهِ  مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّى فَأَطَالَ السُّجُودَ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ قَدْ قُبِضَ، فَلَمَّا رَأَيْتُ ذَلِكَ قُمْتُ حَتَّى حَرَّكْتُ إِبْهَامَهُ فَتَحَرَّكَ فَرَجَعَ، فَلَمَّا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ السُّجُودِ وَفَرَغَ مِنْ صَلاَتِهِ قَالَ: يَا عَائِشَةُ أَوْ يَا حُمَيْرَاءُ أَظَنَنْتِ أَنَّ النَّبِيَّ  قَدْ خَاسَ بِكِ؟ قُلْتُ: لاَ وَاللهِ يَا رَسُوْلَ اللهِ وَلَكِنِّي ظَنَنْتُ أَنْ قُبِضْتَ طُوْلَ سُجُوْدِكَ، قَالَ: أَتَدْرِي أَيَّ لَيْلَةٍ هَذِهِ؟ قُلْتُ: اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: هَذِهِ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَطَّلِعُ عَلَى عِبَادِهِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِلْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَرْحَمُ الْمُسْتَرْحِمِيْنَ وَيُؤَخِّرُ أَهْلَ الْحِقْدِ كَمَا هُمْ، رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ. وَقَالَ هَذَا مُرْسَلٌ جَيِّدٌ وَيُحْتَمَلُ أَنْ يَكُوْنَ الْعَلاَءُ أَخَذَهُ مِنْ مَكْحُوْلٍ وَاللهُ أَعْلَمُ (شعب الإيمان للبيهقي)

“Dari 'Ala' bin Harits bahwa Aisyah berkata: “Rasulullah bangun di tengan malam kemudian beliau salat, kemudian sujud sangat lama, sampai saya menyangka bahwa beliau wafat. Setelah itu saya bangun dan saya gerakkan kaki Nabi dan ternyata masih bergerak. Kemudian Rasul bangkit dari sujudnya setelah selesai melakukan shalatnya, Nabi berkata “Wahai Aisyah, apakah kamu mengira Aku berkhianat padamu?”, saya berkata “Demi Allah, tidak, wahai Rasul, saya mengira engkau telah tiada karena sujud terlalu lama.” Rasul bersabda “Tahukauh kamu malam apa sekarang ini?” Saya menjawab “Allah dan Rasulnya yang tahu”. Rasulullah bersabda “ini adalah malam Nishfu Sya’ban, sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla memperhatikan hamba-hamba-Nya pada malam Nisfu Sya’ban, Allah akan mengampuni orang-orang yang meminta ampunan, mengasihi orang-orang yang meminta dikasihani, dan Allah tidak akan memprioritaskan orang-orang yang pendendam”. (HR Al Baihaqi fi Syuab Al Iman No 3675, menurutnya hadits ini Mursal yang baik)

Begitu pula beberapa fatwa Ulama, diantaranya: (1) “Ibnu Taimiyah ditanya soal shalat pada malam nishfu Sya’ban. Ia menjawab: Apabila seseorang shalat sunah muthlak pada malam nishfu Sya’ban sendirian atau berjamaah, sebagaimana dilakukan oleh segolongan ulama salaf, maka hukumnya adalah baik. Adapun kumpul-kumpul di masjid dengan shalat yang ditentukan, seperti salat seratus raka’at dengan membaca surat al Ikhlash sebanyak seribu kali, maka ini adalah perbuata bid’ah yang sama sekali tidak dianjurkan oleh para ulama”. (Majmú' Fatáwá Ibnu Taymiyyah, II/469) (2) “Ibnu Taimiyah berkata: Dari beberapa hadis dan pandapat para sahabat menunjukkan bahwa malam Nishfu Sya’ban memiliki keutamaan tersendiri. Sebagian ulama Salaf melaksanakan salat sunah secara khusus di malam tersebut”. (Faidl al-Qadír, Syaikh al-Munawi, II/302)

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/05/hukum-shalat-nisfu-syaban.html

Minggu, 01 Januari 2017

Jurnal Mlangi Kupas Tradisi Riset di Pesantren

Sleman, VOA Islami. Seolah ingin kembali mendulang kesuksesan dalam menerbitkan Jurnal edisi perdana pada bulan Mei lalu, Pesantren Aswaja Nusantara, Mlangi, Yogyakarta, kembali menyuguhkan sebuah jurnal, yang merupakan edisi kedua (Juli-September).

Mustafied, pengasuh Pesantren Aswaja Nusantara mengatakan, setidaknya terdapat empat hal, mengapa jurnal ini penting untuk dibaca.

Jurnal Mlangi Kupas Tradisi Riset di Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Jurnal Mlangi Kupas Tradisi Riset di Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)


Jurnal Mlangi Kupas Tradisi Riset di Pesantren

Pertama, menunjukkan bahwa pesantren memiliki tradisi riset yang panjang dan kuat. Kedua, temuan sains dan teknologi mutakhir tidak dapat dilepaskan dari temuan riset para ilmuwan Islam klasik.

Ketiga, keniscayaan pesantren menuju pesantren-riset sebagai pijakan untuk menjawab problematika kontemporer. Keempat, jurnal ini memberi gambaran apa itu pesantren riset, dari paradigm hingga strategi implementasi, tuturnya dengan panjang lebar kepada VOA Islami, Rabu (10/7) sore.

VOA Islami

Dengan mengangkat tema utama Pesantren, Riset Strategis Bangsa, dan Kondobhuwono, edisi kedua jurnal tersebut menyajikan beberapa konten menarik.

VOA Islami

Dalam rubrik riset utama, jurnal ini menyajikan tiga tema. Pertama, mengupas sejarah research university dan transformasinya hingga saat ini di Barat. Kedua, tentang tradisi riset di lingkungan perguruan tinggi di Indonesia, mulai dari sejarah hingga prioritas riset yang ada. Ketiga, yaitu paradigma, orientasi ideologi riset ala pesantren (Pesantren-Riset).

Tak kalah menarik dengan rubrik riset utama, dalam artikel utama, disajikan pula empat tema berbobot. Pertama, tentang dominasi global perguruan tinggi di Amerika. Kedua, dekolonisasi metodologi, pra-syarat riset berbasis kebutuhan bangsa. Ketiga, tradisi riset di lingkungan perguruan tinggi Islam, dan terakhir, tentang perguruan tinggi riset berbasis nilai-nilai pesantren.

Selain artikel utama, terdapat pula rubrik artikel lepas yang menyajikan tiga tema, yakni memperkokoh basis teologis pendidikan, konsep kepemimpinan sultan agung, dan penyelewengan makna jihad.

Dalam Kolom, terdapat tiga hal yang menjadi sorotan, yakni tentang neoliberalisme dan tantangan ilmu sosial, redupnya tradisi riset sejak dini, dan anak dan bahasa asing, kapan dipersuakan?

Sebagai pelengkap, terdapat pula rubrik Panorama Global yang mengangkat tema Arab Spring: Agama dan Teori Transisi Demokrasi Gelombang Keempat. Selain itu, esai sastra tentang genre sastra jahily turut pula di dalamnya.

Adapun kitab yang direview kali ini adalah Ar Risalah: Embrio Ushul Fiqh. Sedangkan buku, yaitu senjakala integrasi-interkoneksi. Dalam tokoh yang menjadi sorotan dalam edisi kedua ini adalah Mbah Kiai Nur Iman dan Tuan Guru KH Zainuddin Abdul Madjid.

Rencananya, jurnal tersebut akan dibedah usai lebaran nanti, di Universeitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Islam Indonesia (UII).

Bagi yang berminat dengan jurnal tersebut, dapat menghubungi 08156866002 atau bisa datang langsung ke Pesantren Aswaja Nusantara, Mlangi, Nogotirto, Gamping, Sleman, Yogyakarta.

Redaktur : A. Khoirul Anam

Kontributor: Dwi Khoirotun Nisa

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/45772/jurnal-mlangi-kupas-tradisi-riset-di-pesantren

Kirab Resolusi Jihad Tiba di Pasuruan, Makam Kiai Hamid Jadi Tujuan

Pasuruan, VOA Islami. Perjalanan Tim Kirab Resolusi Jihad NU 2016 berlanjut ke Kabupaten/Kota Pasuraun, Jawa Timur, Jumat (14/10) siang. Setiba di Pendopo Pasuruan, anggota Tim yang berjenis kelamin laki-laki segera diarahkan ke Masjid Agung Pasuruan untuk mengikuti Shalat Jumat.

Selepas shalat, Tim meneruskan dengan ziarah kubur di makam KH Abdul Hamid bin Abdullah bin Umar yang berasal dari Lasem. Almaghfurllah merupakan seorang waliyullah dan tokoh yang disegani.

Kirab Resolusi Jihad Tiba di Pasuruan, Makam Kiai Hamid Jadi Tujuan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kirab Resolusi Jihad Tiba di Pasuruan, Makam Kiai Hamid Jadi Tujuan (Sumber Gambar : Nu Online)


Kirab Resolusi Jihad Tiba di Pasuruan, Makam Kiai Hamid Jadi Tujuan

Selanjutnya, Tim diarahkan Panitia Lokal menuju ke Pendopo Pasuruan untuk mengikuti upacara penyambutan dari Pemerintah Kabupaten/Kota Pasuruan. Jarak Pendopo yang dekat dan posisinya yang berhadapan dengan Masjid Agung Pasuruan, memudahkan dan mempercepat kedatangan Tim.

Upacara penyambutan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota Pasuruan juga dihadiri oleh jajaran pegawai di lingkungan Pemkot/Pemda, serta diikuti PCNU Pasuruan. KH Muzaki Birul Alim didaulat membuka acara. Adapun sambutan Bupati Pasuruan diwakilkan kepada Sekretaris Daerah Pasuruan Agus Wijiyaji.

VOA Islami

Agus Wijiyaji mengatakan, pihaknya menyambut baik dan menyampaikan selamat datang kepada peserta kirab. Kirab merupakan rangkaian peringatan Hari Santri Nasional yang tahun ini memasuki tahun kedua sejak diresmikan Presiden Joko Widodo tahun lalu.

VOA Islami

Ia mengatakan peringatan Hari Santri penting untuk mengingatkan bangsa Indonesia akan peran ulama, kiai, dan santri dalam perjuangan kemerdekaan dalam momen Resolusi Jihad. Melalui Kirab Resolusi Jihad diharapkan akan menjadi ajang napak tilas dan meneladaninya.

Selain itu, kirab juga sebagai media transformasi kepada generasi muda untuk menebarkan kebaikan, rasa aman, dan kedamaian, ujar Agus.

Kirab Resolusi Jihad menjadi tanda semangat NU yang luar biasa dalam mengenang Resolusi Jihad yang digelorakan KH Hasyim Asyari. Hal ini disampaikan Al-Habib Abu Bakar Asegaf, yang didaulat menyampaikan sambutan mewakili ulama Pasuruan.

Ia mengingatkan bahwa keterlibatan NU dalam berbangsa dan bernegara sangat perlu. Tetapi jangan sampai menjadikan NU untuk kepentingan politik maupun pribadi.

Selain itu, Kirab Resolusi Jihad dan peringatan Hari Santri hendaknya tidak sekadar ajang l formalitas dan seremonial belaka. Namun agar sungguh-sungguh dapat dijadikan teladan dalam kehidupan sehari-hari.

Upacara diakhiri dengan pelepasan Tim Kirab oleh Walikota Pasuruan, Setiono. Sekitar 100 anggota Banser dan seratus anggota Ikatan Seni Hadrah Republik Indonesia (Ishari) Pasuruan berpawai mengantar Tim. Mereka dengan lantang menyanyikan Mars Banser menyemangati Tim yang akan segera berangkat meneruskan perjalanan berikutnya menuju Pesantren Sidogiri. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/72002/kirab-resolusi-jihad-tiba-di-pasuruan-makam-kiai-hamid-jadi-tujuan

VOA Islami

Senin, 28 November 2016

Menegakkan Panji-Panji NU di UGM melalui KMNU

Yogyakarta, VOA Islami. Dunia mahasiswa merupakan masa dimana semangat muda menggebu-gebu.Ada sebagian dari mereka memanfaatkannya dengan terjun dalam dunia politik, tapi tidak sedikit pula yang jenuh dengan dunia itu. Terkadang mereka lebih memilih aktif menyibukkan diri dengan ritual ubudiyah. Itulah yang dirasakan Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama Universitas Gadjah Mada (KMNU UGM).

KMNU UGM lahir akibat keprihatinan akan banyaknya mahasiswa berlatar belakangan NU yang lebih memilih aktif di organisasi kemahasiswaan yang ketika selesai studi melanjutkan kariernya di dunia politik praktis. Hal ini menjadi semacam kelaziman. Alumni HMI, misalnya melanjutkan karirnya sebagai politisi Golkar, GMNI ke PDI-P, KAMMI ke PKS, dan PMII ke PKB.

Menegakkan Panji-Panji NU di UGM melalui KMNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Menegakkan Panji-Panji NU di UGM melalui KMNU (Sumber Gambar : Nu Online)


Menegakkan Panji-Panji NU di UGM melalui KMNU

Beberapa teman merasa kondisi ini akan membuat perpecahan yang tak perlu. Oleh karenanya, perlu sebuah payung bersama anak-anak NU di kampus yang mampu membuat semua pihak merasa nyaman. Mereka sepakat mendirikan sebuah organisasi kemahasiswaan yang berisi anak-anak NU yang bersifat bebas dan terbuka, kata Wildan Sayidi yang pernah menjadi pengurus KMNU UGM.

VOA Islami

Wildan menambahkan, pada tahun 2001 wadah tersebut diberi nama KMNU dengan mengambil konsep gerakan kultural sebagai penguatan dakwah Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja) ala NU. Secara de jure, ada dua pemikiran utama dalam mendirikan KMNU UGM.

Pertama, mahasiswa NU di UGM belum terorganisir dengan baik. Banyak mahasiswa NU kebingungan memilih aktif di organisasi mana. Mereka tidak menemukan organisasi mahasiswa yang berlabel NU, meskipun telah ada PMII.

VOA Islami

Kedua, mahasiswa NU harus bisa memanfaatkan basis kultural ke-NU-annya dalam melakukan aktivitas keagamaan di lingkungan kampus UGM. Di sisi lain, saat ini penyebaran pemahaman dan aliran-aliran non-aswajadi UGM semakin kuat. Tren ini terjadi di hampir seluruh perguruan tinggi di Indonesia.

Memang KMNU UGM khusus bergerak pada bidang dakwah dan ubudiyah sebagai sarana membentengi mahasiswa NU UGM dari serangan ideologi-ideologi non-Ahlusunnah wal Jamaah, kata Wildan.

Deklarasi KMNU UGM pertama kali dilakukan di ruang 110 Fakultas Pertanian UGM lama dengan mempercayakan Faisol Masud sebagai ketua KMNU UGM pertama. Mahasiswa angkatan 1998 ini memulai KMNU dengan menghidupkan kembali tradisi-tradisi NU di lingkungan kampus UGM, seperti sholawatan, barzanji, tahlil, yasinan, dan ziarah ke makam para ulama.

Dapat dikatakan peran KMNU UGM di lingkungan kampus UGM menjadi urgen ditengah-tengah serangan aqidah non-Aswaja. Meski KMNU UGM ini termasuk organisasi bil ghoib, namun eksistensi KMNU UGM mampu memberikan sumbangan nyata dalam menjaga tradisi-tradisi Aswaja di lingkungan kampus UGM.

Banyak kegiatan yang telah dilakukan KMNU UGM. Salah satunya adalah workshop dan pelatihan kepemimpinan kader-kader NU di Pondok Bina Akhlak Plosokuning, Sleman, Yogyakarta pada 10 Mei 2009, pelayanan Kesehatan Masyarakat dalam memeriahkan acara Kids Fun Day ke-2 yang diselenggarakan oleh SD NU Yogyakarta, 2012, dan lain sebagainya.

Sampai saat ini, tercatat setidaknya ada 500 mahasiswa yang menjadi anggota KMNU UGM. KMNU juga bergerak di dunia maya. Di jejaring sosial Facebook, fanspage KMNU Komunitas memiliki 1.079 penggemar.

Belum lama ini KMNU mengadakan majmaunnahdliyin atau pertemuan warga NU dalam rangka pergantian pengurus periode 2010-2012 di Pesantren Inayatullah Yogyakarta, Sabtu (12/05/12). Pertemuan itu, kemudian memilih Izzul Abid sebagai ketua KMNU UGM periode 2012-2013.

Tantangan terberat KMNU UGM saat ini adalah dakwah di kampus. Banyak anggota yang sering tergoyahkan oleh aqidah-aqidah non-Aswaja. Mereka dakwahnya ngeri-ngeri. Mereka sering mengharamkan ubudiyah aswaja, lewat buletin-buletin yang tersebar secara gratis di lingkungan kampus UGM, tambah Wildan.

Redaktur : Mukafi Niam

Kontributor: Rokhim, Taufiqurrahman

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/43200/menegakkan-panji-panji-nu-di-ugm-melalui-kmnu

Minggu, 20 November 2016

PMII Blitar Peringati Hari Antikorupsi

Blitar, VOA Islami. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Cabang Blitar melakukan aksi guna memperingati Hari Antikorupsi di dua tempat berbeda, kemarin siang.

Puluhan aktivis mahasiswa dari PMII Blitar melakukan demonstrasi di 2 titik yakni perempatan patung Bungkarno dan di depan DPRD Kota Blitar.

PMII Blitar Peringati Hari Antikorupsi (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Blitar Peringati Hari Antikorupsi (Sumber Gambar : Nu Online)


PMII Blitar Peringati Hari Antikorupsi

"Kami meminta supaya rezim SBY-Boediono untuk lengser dari jabatannya karena tidak dapat memberantas kasus korupsi yang ada. Bahkan,yang terjadi lingkaran kekuasaan rezim ini dipenuhi oleh para koruptor-koruptor kelas kakap, ujar Mahathir Muhammad selaku Ketua Umum PC PMII Blitar kepada VOA Islami disela-sela demo, kemarin.

VOA Islami

Selain itu sebagai masyarakat Blitar, lanjut Muhathir, khususnya mahasiswa Blitar mengutuk dan mengecam keras perbuatan Boediono putra daerah Blitar yang terlibat dalam kasus BLBI dan Century . Sebagai warga Blitar kami malu, katanya.

VOA Islami

Dalam aksinya, aktivis PMII Blitar mendorong mobil yang dipenuhi gambar rezim SBY dan tikus yang melambangkan bahwa rezim SBY Boediono telah mogok dan stagnan dalam menangani kasus-kasus korupsi yang ada bahkan di lingkaran kekuasaannya banyak koruptor-koruptor kelas kakap.

Aksi ini berakhir sampai jam 12 siang dan diakhiri dengan menyebar pers release dan ditutup dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. (mukafi niam/imam kusnin)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/48686/pmii-blitar-peringati-hari-antikorupsi

Kamis, 10 November 2016

Shinta Nuriyah: Didik Anak untuk Cintai Negerinya

Jakarta, VOA Islami. Peringatan Hari Anak Nasional harus menjadi perhatian bersama para orang tua agar mendidik anak untuk mencintai negerinya, yaitu Indonesia. Hal ini disampaikan oleh Hj Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid saat memberikan sambutan dalam acara Halal Bihalal Pimpinan Pusat Muslimat NU, Sabtu (23/7) di Gedung Pusdiklat Kemensos, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Persoalan ini disampaikan oleh istri almarhum Gus Dur tersebut mengingat anak-anak juga menjadi sasaran doktrin paham-paham yang tidak sesuai dengan semangat Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Masalah tersebut krusial apalagi wajah Indonesia nanti sangat tergantung dengan warna anak-anak saat ini.

Shinta Nuriyah: Didik Anak untuk Cintai Negerinya (Sumber Gambar : Nu Online)
Shinta Nuriyah: Didik Anak untuk Cintai Negerinya (Sumber Gambar : Nu Online)


Shinta Nuriyah: Didik Anak untuk Cintai Negerinya

Orang tua harus mendidik anak sebaik-baiknya. Semoga mereka bisa mencintai negerinya, ujar Shinta Nuriyah di hadapan 200 anak dan 300 ibu-ibu Muslimat yang hadir dalam acara tersebut.

VOA Islami

Sebagai tunas-tunas penjaga bangsa, tambah Dewan Penasihat PP Muslimat NU ini, mereka juga harus dididik untuk saling tolong menolong antar-sesama sebab negara Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa yang harus dijaga kerukunan, kesatuan, dan kebersamaannya.

VOA Islami

Ibu dari 4 putri ini kemudian mengajak anak-anak untuk menyanyikan lagu berjudul Satu Nusa Satu Bangsa yang terlihat lancar dan fasih dinyanyikan oleh seluruh anak-anak. Selain lagu tersebut, ratusan anak itu juga lancar dalam menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Kami sebagai orang tua titip Indonesia kepada anak-anak dan pemuda. Sebab itu, hindarkan mereka dari perilaku yang tidak baik sehingga terbiasa dengan hal-hal baik, tandas Nuriyah.

Sementara itu, Ketua Dewan Penasihat PP Muslimat NU Hj Aisyah Hamid Baidlowi yang juga memberikan sambutan dalam acara tersebut menegaskan bahwa anak-anak adalah calon pemimpin bangsa di masa depan. Mendidik mereka dengan benar saat ini akan memberikan kebaikan, baik untuk orang tua maupun Indonesia ke depan.

Hasil didikan kepada anak akan kita petik 20-30 tahun nanti, bukan sekarang. Sebab itu, belajarlah sebanyal-banyaknya karena ilmu tidak terbatas, tukas Ketua Umum PP Muslimat NU periode 1995-2000 ini. (Fathoni)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/69907/shinta-nuriyah-didik-anak-untuk-cintai-negerinya

Jumat, 30 September 2016

Inilah Alasan-Alasan Mengapa NU Menolak FPI?

VOA Islami - Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Denpasar (Bali) dan Nusa Tenggara Barat secara resmi menolak kehadiran Front Pembela Islam (FPI) di kedua daerah masing-masing. Keduanya mempunyai alasan yang berbeda-beda. NU Denpasar menolak FPI karena dinilai bisa merusak kebhinnekaan dan harmoni. Sedangkan NU NTB tidak ingin masalah politik yang berkecamuk di Jakarta dibawa-bawa ke NTB, sehingga mengganggu situasi masyarakat yang aman, damai, dan kondusif.

Inilah Alasan-Alasan Mengapa NU Menolak FPI? - VOA Islami
Inilah Alasan-Alasan Mengapa NU Menolak FPI? - VOA Islami


Inilah Alasan-Alasan Mengapa NU Menolak FPI?

Sikap NU ini sebenarnya bukan hal baru. Pada tahun 2014, KH Malik Madani, Katib ‘Am Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, dalam rapat gabungan antara Syuriah dan Tanfidziyah secara tegas menolak dakwah FPI karena dianggap bertentangan dengan metode dakwah Ahlussunnah wal-Jamaah, yang dikenal toleran, moderat, dan elegan (http://www.nu.or.id/post/read/51730/nu-tolak-tegas-gerakan-hti-dan-fpi). Pertanyaannya, kenapa NU menolak FPI?

Penjelasan di bawah ini teramat penting untuk menjawab kebingungan di tengah-tengah masyarakat, karena FPI selalu dikaitkan dengan NU atau beberapa pahamnya dianggap sejalan dengan tradisi NU, sehingga ada anggapan seolah-olah FPI bagian dari NU.

Maka, sikap NU Denpasar dan NU NTB tersebut sebenarnya memberikan garis demarkasi dan diferensiasi antara NU dan FPI. Bahkan, NU sebenarnya menolak FPI, karena sepak terjangnya dianggap bertentangan dakwah Ahlussunnah wal-Jamaah yang dipedomani NU, yang dikenal ramah, toleran, dan moderat.

Sebagai organisasi yang dinakhodai para ulama dan kiai, NU ingin memastikan bahwa Islam rahmatan lil ‘alamin dapat menjadi ruh yang memperkokoh bangsa dan memperkuat hubungan antara sesama (hablum minan nas). Sebab itu, untuk mencapai tujuan yang mulia mesti diperlukan strategi dakwah yang merangkul, bukan dakwah yang memukul.

Masih segar melekat dalam ingatan publik bagaimana FPI kerapkali melukai perasaan warga NU saat Rizieq Shihab menyebut Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dengan buta mata dan buta hati dalam sebuah wawancara yang disiarkan live di sebuah stasiun televisi swasta.

Bagi kami, kader muda NU, ujaran Rizieq Shihab tersebut sangat melukai warga NU yang sangat menghormati Gus Dur.

Gus Dur adalah mantan Ketua Umum PBNU, Presiden RI ke-3, dan cucu pendiri NU, yang pengabdiannya kepada NU dan bangsa sangat besar. Bahkan, hingga sekarang ribuan orang setiap hari masih menziarahi kuburan Gus Dur.

Kita juga menonton Youtube di mana Rizieq Shihab secara terbuka menyebut kata-kata yang tidak pantas terhadap Ketua Umum PBNU KH Prof. Dr. Said Aqil Siradj. Berbeda pendapat adalah hal yang biasa, termasuk di dalam lingkungan NU, bahkan perbedaan pendapat menjadi salah satu khazanah NU. Tapi melontarkan kata-kata yang tidak pantas dan tidak etis terhadap Ketua Umum PBNU tentu merupakan salah satu tindakan yang secara moral tidak bisa diterima.

Selain hal yang bisa dilihat secara visual, sebenarnya ada hal-hal yang bersifat prinsipil yang menjadi landasan NU menolak FPI. Pertama, Islam adalah agama yang membawa rahmat dan kasih sayang kepada siapa pun. Karena itu, inti dari Islam adalah persaudaraan (al-ukhuwwah). Persaudaraan merupakan tiang Islam, negara, dan kemanusiaan.

Untuk itu, ulama NU menggarisbawahi tiga model pesaudaraan: persaudaraan keislaman (al-ukhuwwah al-islamiyyah), persaudaraan kebangsaan (al-ukhuwwah al-wathaniyyah), dan persaudaraan kemanusiaan (al-ukhuwwah al-basyariyyah).

Karenanya, jika ada pihak-pihak yang ingin menampilkan wajah Islam yang penuh amarah, apalagi menebarkan kebencian dan kekerasan, sebenarnya dapat mengganggu persaudaraan. NU bertahun-tahun menjadi “jimat bangsa” dengan membangun harmoni antara sesama warga negara, apa pun agama dan keyakinannya. Sebab, sebuah bangsa tidak akan berdiri tegak jika harmoni di antara warganya tidak terwujud.

Kedua, paham Ahlussunnah wal-Jamaah NU mempunyai karakteristik tersendiri. Menurut KH Achmad Siddiq dalam Khitthah Nahdliyyah, ada dua karakteristik Ahlussunnah wal-Jamaah NU, yaitu moderat, memilih jalan tengah (al-tawassuth), tidak ekstrem, baik ekstrem kanan maupun ekstrem kiri. Selain itu, karakter yang menonjol adalah menebar rahmat kepada siapa pun (rahmatan lil ‘alamin).

Karena itu, dakwah-dakwah NU mengutamakan kearifan, nasihat yang santun, dan debat yang rasional-konstruktif. Jihad yang dilakukan oleh NU adalah jihad kebangsaan dalam rangka mewujudkan kemerdekaan dan jihad kemanusiaan dengan melakukan pendidikan dan pelayanan masyarakat melalui pesantren-pesantren dan ekonomi kerakyatan.

Ketiga, sebagai organisasi yang dipimpin oleh para ulama, NU sangat mengedepankan keteladanan dan akhlak mulia. Ulama adalah pewaris para Nabi, karenanya ia mewarisi akhlak mulia, yang ucapan-ucapannya harus menginspirasi, bukan memprovokasi. Menurut KH Achmad Siddiq, ciri-ciri ulama antara lain: takwa kepada Allah SWT; mewarisi ucapan, perbuatan, dan akhlak Nabi Muhammad SAW; tekun beribadah, asketis, berilmu luas, mengedepankan kemaslahatan umum, dan mengabdikan ilmunya untuk Allah SWT.

Keempat, NU akan selalu mematuhi pemimpin yang dipilih secara sah, tidak melakukan makar, meski tidak kehilangan sikap kritis. Sikap ini diambil dalam rangka memastikan negara dalam keadaan kondusif, tidak dalam keadaan turbulen, dan penuh gonjang-gonjing.

Kelima, NU akan menjadi menjaga Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika. Dalam Muktamar NU 1984, NU menerima Pancasila sebagai asas tunggal. Lalu, pada Musyawarah Alim Ulama 2006 di Surabaya, NU menegaskan kembali Pancasila sebagai dasar negara yang bersifat final.

Sikap NU yang demikian ini penting untuk diketahui publik, khususnya warga NU agar senantiasa menjadi kelompok mayoritas yang melindungi kelompok minoritas. Bukan hanya itu, NU dapat menjadi pelopor bagi kokohnya solidaritas kebangsaan.

Ibu Megawati Soekarnoputri menyampaikan pesan yang sangat baik dalam Hari Ulang Tahun PDI Perjuangan ke-44, agar kelompok mayoritas tidak boleh diam. NU sebagai salah satu ormas Muslim terbesar di negeri ini harus menyampaikan sikapnya agar Islam terus menjadi faktor yang memperkokoh kebangsaan.

Apa yang dilakukan NU Denpasar dan NU NTB adalah sikap yang tepat sebagai upaya untuk mengingatkan dalam kebajikan (tawashaw bil haqq) dan mengingatkan dalam kesabaran (tawashaw bi al-shabri). [VOA Islami]

Zuhairi Misrawi, Ketua Moderate Muslim Society, Alumnus Universitas al-Azhar, Kairo Mesir. Intelektual Muda Nahdlatul Ulama. Ketua Pengurus Pusat Baitul Muslimin Indonesia. Menulis sejumlah buku: Al-Quran Kitab Toleransi: Inklusivisme, Pluralisme, dan Multikulturalisme (2008), Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari: Keindonesiaan dan Keumatan (2012), Mekkah: Kota Suci, Kekuasaan, dan Teladan Ibrahim (2010), Madinah: Kota Suci, Piagam Madihan, dan Teladan Muhammad (2011), Al-Azhar: Menara Ilmu, Reformasi, dan Kiblat Keulamaan (2011)

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/inilah-alasan-alasan-mengapa-nu-menolak-fpi.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs VOA Islami sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik VOA Islami. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan VOA Islami dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock