Selasa, 28 Agustus 2007

Hafalkan Al-Quran Secara Otodidak Melalui Kaset

Probolinggo, VOA Islami. Mengalami kebutaan sejak lahir, tidak lantas membuat Samsudin patah semangat. Ia pun memutuskan menjadi penjaga firman Allah SWT dengan menjadi penghafal Al-Quran. Seperti apa kisahnya, berikut penelusuran Kontributor VOA Islami Probolinggo, Syamsul Akbar.

Saat ditemui oleh VOA Islami, Samsudin terlihat serius mengikuti tadarusan di musholla Kantor Kejaksaan Negeri Kraksaan Kabupaten Probolinggo. Bedanya, bila yang lain lengkap dengan kitab suci di tangan, Samsudin sebaliknya.

Hafalkan Al-Quran Secara Otodidak Melalui Kaset (Sumber Gambar : Nu Online)
Hafalkan Al-Quran Secara Otodidak Melalui Kaset (Sumber Gambar : Nu Online)


Hafalkan Al-Quran Secara Otodidak Melalui Kaset

Maklum, berbeda dengan kebanyakan pegawai Kejari Kraksaan yang di musholla tersebut, Samsudin memang penghafal Al-Quran. Tidak kurang dari 114 surat dan 6.666 ayat dalam Al-Quran yang ia kuasai di luar kepala. Tidak mengherankan sepanjang pelaksanaan tadarus tersebut, Samsudin cukup memberi isyarat dengan kepalanya mengikuti lantunan ayat yang dibacakan.

VOA Islami

Lelaki yang mengalami kebutaan sejak lahir tersebut menceritakan bagaimana sekelumit tentang perjalanan hidupnya. Termasuk kemampuannya menghafal Al-Quran. Ya inilah saya. Sejak lahir atau dalam kandungan, saya sudah tidak dapat melihat. Itupun, menurut yang saya dengar dari keluarga, ungkap Samsudin kepada VOA Islami.

Lelaki asal Desa Bulu Kecamatan Kraksaan Kabupaten Probolinggo tersebut menceritakan bagaimana kehidupannya masa kecilnya. Lahir dari keluarga pas-pasan, Samsudin kecil tetap berusaha semangat. Pemilik tanggal lahir 31 Desember 1979 inipun sempat mengenyam pendidikan sekolah dasar.

VOA Islami

Sayang, karena alasan ekonomi, masa belajarnya hanya sampai kelas 5. Pendidikan saya, SD saja tidak lulus. Waktu kelas empat mau naik ke kelas lima, saya berhenti sekolah karena alasan tertentu. Termasuk ekonomi keluarga yang memang kurang berkecukupan, terangnya.

Meski demikian, kecenderungannya untuk belajar ilmu agama tidak pernah pupus. Khususnya Al-Quran yang memang sudah digemarinya sejak kecil. Bahkan, saat duduk di bangku sekolah, dirinya diam-diam mulai belajar menghafalkannya.

Tentu dengan keterbatasan penglihatan yang dimilikinya, keinginannya untuk menghafal Al-Quran tidak seperti kebanyakan orang. Misalnya, dengan membaca melalui kitab, lalu belajar menghafalkannya.

Kemampuan menghafal Al-Quran itu ia pelajari langsung dari Kiai Nawawi di kampungnya. Caranya, Sang Kiai membacakan ayat demi ayat, sementara ia dengan seksama mendengarkannya, untuk kemudian secara bergantian menirukannya.

Jadi, saya mendengarkannya dengan cara mendengarkan Kiai Nawawi membacakan ayat Al-Quran. Saya dengarkan, baca ulang dan menghafalnya , jelasnya. Menurutnya, menghafal Al-Quran dengan cara seperti ini ternyata membutuhkan waktu yang relatif lama. Bahkan hingga berhenti sekolah, baru hafal 1 juz.

Seusai putus sekolah tahun 1988 lalu, diakui Samsudin dirinya tidak nganggur di rumahnya. Tetapi ia melanjutkan belajar dan menetap di salah satu pesantren di Kota Kraksaan. Sayangnya, karena sesuatu hal, ia tidak bisa meneruskan keinginannya menimba ilmu di pesantren tersebut. Saya mondok pertama hanya bertahan sebulan. Karena tidak betah, sayapun pulang dan berhenti, kenangnya.

Selang dua tahun menjadi pengangguran, Samsudin memutuskan untuk kembali belajar di Pesantren Tahfidil Quran Desa Rangkang Kecamatan Kraksaan Kabupaten Probolinggo dibawah asuhan KH. Abdul Qodir. Itu dilakukannya sejak tahun 1990 silam.

Berkat keinginan dan kemauannya yang kuat untuk menghafal Al-Quran, tiga tahun berikutnya, bait-bait ayat suci Al-Quran itu sudah mulai ia kuasai di luar kepala. Saya mondok mulai tahun 1990. Sekitar tahun 1993, saya sudah mulai hafal. Jadi, sekitar tiga tahun, terangnya.

Berbeda dari sebelumnya, proses menghafal Al-Quran di pesantren tersebut diakui Samsudin tidak terlalu sulit. Terlebih saat menghafal juz ke-6 ke atas. Sebab saat itu ia tidak lagi mengandalkan bacaan Al-Quran dari orang lain. Tetapi melalui kaset. Melalui kaset itu dirinya berulang kali mendengarkan rekaman Al-Quran yang ia putar melalui walkman. Susahnya menghafalkan Al-Quran kalau tape walkman rusak atau hilang.Saya tidak tahu, habis berapa tape untuk menghafalkan Al-Quran itu, jelasnya.

Sejak menguasai Al-Quran itulah, ia kerap mengikuti lomba qori, baik di tingkat daerah maupun provinsi. Sayangnya sepanjang keikutsertaannya, belum satupun gelar yang ia persembahkan.

Kini, salah satu tugas berat Samsudin adalah menjaga agar ayat-ayat suci yang ada di luar kepalanya tidak sampai lupa. Sebab, itu sudah menjadi komitmen bagi seorang hafidz (sebutan penghafal Al-Quran). Karena itu, bila tidak ada urusan di luar, ia lebih banyak melewatkan hari-harinya di rumah sambil melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran.

Red: Anam

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/46040/hafalkan-al-quracircan-secara-otodidak-melalui-kaset

VOA Islami

Menyajikan informasi secara lugas dan berimbang, disertai data-data yang akurat dan terpercaya.


EmoticonEmoticon

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs VOA Islami sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik VOA Islami. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan VOA Islami dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock