Senin, 26 Desember 2011

Indonesia Itu Mengingkari Syariat Islam

VOA Islami - Islam di Indonesia itu unik. Tidak terlalu menekankan formalisme syariat, begitu juga syariat bisa dihidupkan dalam tradisi arif yang sudah berlangsung ratusan tahun. Misalnya, ketika ditanya tentang sesajen, Sunan Bonang tidak langsung memvonis sesat. Bahkan beliau menyarankan agar memperbanyak sesajen karena itu bagian dari sedekah.

Itulah salah satu pernyataan Ustadz Rumail Abbas yang diutarakan dalam Diskusi Selapanan Ahad Legi bertema "Keberagaman Agama di Indonesia" di Lantai II Gedung NU Jepara, Jl. Pemuda 51 Jepara, yang digelar oleh Lesbumi NU Jepara, Sabtu (26/11/2016) malam. Acara ini makin semarak karena dilengkapi dengan konser musik dari USB Band Unisnu.

Rumail Abbas yang juga pengamat terorisme tersebut juga menyebutkan kalau Sunan Ampel adalah sosok yang sangat mengharagai keberagaman di Indonesia. "Sunan Ampel dulu juga pernah menyatakan kalau agama Islam harus sama kedudukannya dengan agama lain," kata Abbas kepada puluhan peserta diskusi.

Indonesia Itu Mengingkari Syariat Islam - VOA Islami
Indonesia Itu Mengingkari Syariat Islam - VOA Islami


Indonesia Itu Mengingkari Syariat Islam

VOA Islami

Tidak ada superioritas dalam konsep keberagaman yang dipraktikkan para walisongo dulu. Karena itulah, tidak ada dari satu gagasan pun yang menginginkan terbentuknya negara Islam di Nusantara hingga para pewarisnya sekarang, ulama, di Indonesia ini.

Hidup penuh toleransi dan saling berbagi justru karena antar aktor manusianya diberikan ruang untuk saling menghormati atas nama manusia. Syariat Islam di Indonesia justru akan membuat keberagaman tidak bisa hidup saling berbagi, aman dan damai.

"Gus Dur pernah mengatakan, Indonesia itu mengingkari syariat Islam," imbuh Abbas.

Sementara itu, Pendeta Danang Kristiawan dari GITJ Jepara yang ketika itu jadi pemantik kedua setelah Abbas memberikan penjelasan tentang fitrah keberagaman. Menurutnya, jumlah agama itu sama dengan jumlah etnis di Nusantara.

VOA Islami

Walaupun sebuah agama bertemu dengan pelbagai jenis adat dan aturan kultural baru, sifat asli agama pasti tetap ada dan tersisa, "meskipun dikonversi dengan pelbagai keyakinan," ujar Danang.

Agama menjadi semacam alat untuk kepentingan politik tertentu karena agama-agama itu pada mulanya memiliki sifat sebagai anak tunggal, yang minta dibenarkan segala yang ada dalam tindakannya.

"Akhirnya mengakibatkan klaim. Terjadi guncangan atau sock ketika bertemu pluralisme, dan makin fundamentalis ketika ketemu klaim-klaim yang sama," tambahnya.

Fundamentalisme berubah jadi radikalisme jika kita tidak pernah berjumpa dengan orang lain yang berbeda keyakinan. Karena hal itu, tutur Danang, akan melahirkan prasangka. "Cara mengurai pra sangka itu ya memang dengan berjumpa," tegasnya.

Yang paling penting saat ini adalah menerima keberagaman dalam satu agama. "Di Kecamatan Kota Jepara ada 7 gereja dengan 5 aliran. Mereka sulit bertemu di internal agama sendiri. Sepertinya baik-baik saja, padahal juga kadang tidak baik-baik saja," terang Danang. [VOA Islami]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/indonesia-itu-mengingkari-syariat-islam.html

Menyajikan informasi secara lugas dan berimbang, disertai data-data yang akurat dan terpercaya.


EmoticonEmoticon

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs VOA Islami sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik VOA Islami. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan VOA Islami dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock